Langsung ke konten utama

Pendidik Vs Pengajar

Teringat ungkapan dari salah satu seorang pakar pendidikan Indonesia, beliau adalah Prof. Dr. Arief Rahman, M.Pd Guru Besar Pendidikan Psikologi Universitas Indonesia. Beliau pernah mengatakan dalam sebuah forum di Televisi Swasta, bahwa seorang "Guru" itu dibagi menjadi dua, yaitu Guru Pendidik dan Guru Pengajar. Guru Pendidik adalah guru yang benar -  benar mendidik secara benar dengan hati nurani, mendidik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah, guru yang menginspirasi siswanya, dan pantas diberikan tanda pahlawan tanpa tanda jasa kepadanya. sedangkan definisi Guru Pengajar adalah  guru yang hanya mengajar berdasarkan tuntunan waktu yang ditetapkan oleh sekolah tersebut, guru yang pasif terhadap siswanya, guru masuk dan pulang mengajar tepat waktu.

Ungkapan beliau, Prof. Dr. Arif Rahman begitu sangat membekas dibenak saya pribadi. Sontak tertuju kepada kondisi Guru ataupun Dosen di Indonesia. Begitu naif kalau kita sampai tidak menerima ungkapan Prof. Dr. Arif Rahman tersebut. Dunia pendidikan di Indonesia memanglah seperti itu, saya analogikan kepada dosen ditempat saya berkuliah, saya nilai dosen ditempat saya kuliah, bertipe seorang "pengajar", bukan pendidik, akan tetapi hanya segelintir yang bertipe pendidik. Mereka datang dikampus tepat waktu, pukul 08.00 WIB, dan pulang dari kampus pukul 15.00 WIB tepat, terkadang sampai lebih, dan lebihnya (menit) bisa dihitung dari jari jemari. Saya pribadi sampai iri dengan kampus sebelah, mendengarkan cerita teman tentang dosennya di perguruan tinggi mereka berkuliah. Mereka bercerita, kalau dosen dan mahasiswa bak rekan, bak teman, bak anak-bapak, berani menemani mahasiswanya sampai gelap gulita datang.

Teringat cerita Bapak saya yang beberapa minggu lalu baru pulang dari negara tetangga, yaitu Malaysia. Beliau bercerita banyak tentang pendidikan di Malaysia. Kata beliau Indonesia kalah jauh dengan Malaysia, padahal dulu mereka berguru ke kita, tapi sekarang sudah terbalik, guru yang berguru ke muridnya. Ada apakah dengan pendidikan Indonesia?. Apakah karena seorang guru atau dosen kurang mendapat tempat dihati para petinggih bangsa?. Apakah petinggi lupa, kalau dia pernah dididik seorang guru atau dosen dulunya?. Sulit dimengerti, dibenak mereka seperti apa.

Bapak saya juga bercerita, tentang tingkat kesejeterahan seorang guru dan dosen disana. Perbandingan kesejateraan guru atau dosen di Malaysia dengan di Indonesia bagaikan langit dengan bumi. Di Malaysia, bisa dibilang guru atau dosen sangat sejaterah, bahkan bisa gaji seorang guru atau dosen lebih tinggi diantara pekerjaan lainnya di Negara Malaysia. Di Malaysia, kata Bapak saya, gaji guru SMA bisa sampai 40 - 50 juta perbulannya. di Indonesia berapakah?. Ah sudahlah, pikir sendiri. Dengan gaji segitu, mereka sampai bisa membeli sebidang tanah yang luas untuk dijadikan perkebunan sawit di negaranya. Sungguh benar -  benar sangat menghargai seorang pendidik di negaranya.



Terima Kasih

MH. Chifdzuddin
06 September 2015 Pukul 19.01 WIB
At Jl. Brawijaya 50 RT. 07 RW. 02 Gopa'an Sembunganyar Dukun Gresik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angkringan: Menjamurnya Angringan di Kota Pahlawan.

Menjamurnya angringan di kota Pahlawan, Kota Surabaya. cukuplah kaget saya ternyata ada banyak sekali angkringan yang ada di Kota Metropolitan ini. Tapi ankgringan di Surabaya masih kala dengan jumlah Warung Kopi (Warkop). Tapi bagi saya Kopdar (Kopi Darat) paling asyik di Angkringan. Kenapa demikian? bagi saya angkringan itu cita rasanya serasa dengan lidah kampung seperti saya pribadi. hidangan yang di sajikan sangatlah menarik mata kita. Terutama buat kantong Mahasiswa seperti saya ini sangat pas dengan harga yang relatif murah ini. Hampir seminggu 3-5 kali dengan teman-teman kuliah maupun Organisasi Ngopi di angkringan depan kampus kami (UPN "Veteran" Jawa Timur). Maklum saya pecinta kopi. Jujur di lidah saya lebih cocok kopi angkringan dari pada kopi warung kopi. Cita rasanya jauh berbeda.    Kali ini saya bercerita sedikit tentang sejarah Angkringan. Angkringan ini berasal dari Kota Keraton, Jogjakarta. Angkringan di jogja merupakan sebuah romantisme perjuang...

Mencari Ilmu dan Harta Untuk Memimpin.

     Saya teringat sebuah perkataan seorang Khalifah atau sahabat nabi Muhammad SAW. Beliau adalah khalifah ke 4 setelah Abu Bakar As-Syidiq, Umar Bin Khattab, dan Ustman Bin Affan. Beliau adalah Ali Bin Abi Thallib. Beliau berpesan seperti ini.  "Carilah ILMU dan HARTA supaya kamu bisa memimpin. Ilmu akan memudahkanmu memimpin orang-orang di atas, sedangkan harta akan memudahkan orang-orang yang di bawah (Masyarakat Awam)" . Setelah saya renungkan, apa yang di katakan itu benar-benar sangat mengenah di pikiran dan hati saya. Terlebih saya ketika mengikuti yang namanya Organisasi, baik di dalam kampus maupun luar kampus. Dari situ saya bisa merasakan menjadi seorang pemimpin itu harus berilmu. Karena kalau nggak berilmu mana bisa kalian mengatur dan memikirkan apa yang kalian pimpin. Karena inti seorang pemimpin (Leader) adalah pengatur dan pemikir. Kalau dalam sepakbola itu di Istilahkan "Playmaker", yaitu pengatur ritme pertandingan. Pemimpin itu pengatur?. Iya, ...

Cerita Indah di Kota Malang: Pantai Bajol Mati, Unggapan dan Goa Cina.

        Waktu itu, beberapa minggu saya sebelum UAS (Ujian Akhir Semester). Saya dan teman Dekat sewaktu SMA. Mereka bernama Billy (Muhammad Billy Rahman dan Vivi (Qurrotus Shofiah). Sebelumnya, saya perkenalkan dulu teman saya yang dua ini.  Muhammad Billy Rahman, dia seorang Mahasiswa juga seperti saya. Dia kuliah di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) Billy mengambil Jurusan Teknik Otomasi Kapal, ganteng loh, kayak Vidi Aldiano. Katanya sih.. Dan teman saya yang kedua, dia kuliah di ITS (Intitute Teknologi Sepuluh November), Surabaya dengan jurusan yang sama seperti saya, yaitu Teknik Sipil. (Hidup Sipil: Ngomong sama tembok). Kami bertiga merencanakan untuk jalan - jalan ke Malang.  3 Minggu setelah pemberangkatan kita rencakan itu. Setelah kami bertiga Deal, kita langsung menghubungi teman - teman kita yang di Malang. Dan mereka meng-iya-kan ajakan kami. Katanya dengan senang hati. Awalnya kita nggak bertiga ingin berangkat, kami mengajak tem...